Our Portfolio

The Last of us

Smart Fast Charging

Inovasi Teknik Lstrik DIII

The Last of us

Sertifikasi

Sertifikasi Ketenagalistrikan

The Last of us

PLTS

Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Berita dan Informasi

Fourfeo Futsal Teknik Listrik DIII Ajang Silaturahmi Mahasiswa FTI

Tim Electrical FC, Teknik Elektro S-1 ITN Malang memenangkan Fourfeo Futsal 2022. (Foto: Istimewa)

Malang, ITN.AC.ID – Fourfeo Futsal 2022 menjadi ajang silaturahmi, mempererat ikatan persaudaraan, dan kerjasama antar mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Listrik DIII (HMTLD-3), di Unggul Sport Center, Sabtu, (20/11/2022)
“Ini event pertama. Rencananya akan diadakan setiap tahun dengan format turnamen, dan peserta yang lebih banyak,” kata Mochammad Ilham Fakhri, Ketua HMTLD-3 saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp, Minggu (27/11/2022).
Ada empat tim yang berlaga, mereka dari prodi teknik elektro S-1, teknik mesin S-1, teknik mesin DIII, dan teknik listrik DIII. Dengan total 52 Peserta, per tim terdiri dari 12 pemain, dan satu official.

Baca juga : Tambah Pengalaman, Mahasiswa Teknik Listrik ITN Malang Kunjungi PT Indolakto Purwosari

“Peminat futsal di kampus kami sangat banyak, dan itu menjadi kesempatan kami untuk menjalin kolaborasi antar HMJ,” imbuh mahasiswa semester 3 ini.
Menurut Ilham, juara hanya diambil satu pemenang. Dikarenakan Fourfeo Futsal merupakan pertandingan persahabatan. Event kali pertama ini dimenangkan oleh tim teknik elektro S-1. Mereka mendapat sertifikat, trofi, dan uang pembinaan.

Fourfeo Futsal Teknik Listrik DIII Ajang Silaturahmi Mahasiswa FTI ITN Malang. (Foto: Istimewa)

“Alhamdulillah peserta antusias. Meskipun masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki untuk event selanjutnya. Semoga setelah acara ini kerjasama, dan rasa persaudaraan antar HMJ di FTI ITN Malang semakin kuat,” harapnya.
Sebagai jawara Tim Electrical FC, teknik elektro S-1 dibawah Kapten Tim Aqshal Jadhuk Prasetyo. Mereka bermain tiga kali dengan sistem liga atau point. Pertandingan pertama melawan teknik mesin S-1.
Dikatakan Aqshal, untuk persiapan Fourfeo Futsal tim selama dua Minggu berlatih rutin. Dengan porsi latihan taktik, posisi, fisik, dan game. Untuk latihan tentu saja di lapangan bola Kampus 2 ITN Malang.

Baca juga : Anggota Himakpa ITN Malang Lulus Sertifikasi Diving

“Kami ingin menunjukkan bahwa elektro juga mempunyai team futsal yang bisa diandalkan baik di event kampus maupun luar kampus,” ujarnya. Kunci sukses Electrical FC adalah saling support, dan percaya satu sama lain. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Atlet Pencak Silat Cempaka Putih ITN Malang Raih Medali Kejurda Jatim

Ahmad Fauzi, mahasiswa Teknik Listrik DIII ITN Malang meraih medali perunggu pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Jawa Timur, Perguruan Pencak Silat Cempaka Putih 2022. (Foto: Istimewa)

Malang, ITN.AC.ID – Ahmad Fauzi, atlet Pencak Silat Cempaka Putih Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil meraih medali perunggu pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Jawa Timur, Perguruan Pencak Silat Cempaka Putih. Momen yang digelar di pertengahan tahun 2022 lalu diikuti 250 peserta di Gor Rajawali, Selopanggung, Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan.
Perguruan pencak silat Cempaka Putih Pusat Magetan mengadakan Kejurda untuk menjaring atlet-atlet dari internal Cempaka Putih. Kegiatan yang digelar tahunan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi anggota Cempaka Putih dari penjuru Jawa Timur.

Baca juga : Ibnu Rossie Adiyo Atlet Wushu ITN Malang Raih Medali Emas Kejuaraan SLC Cup 2022

Ahmad Fauzi, mahasiswa Teknik Listrik DIII ITN Malang meraih juara 3, pada kelas 60-65 kg. Ia mendapat kesempatan bertanding tiga kali, dengan sistem satu kali pertandingan tiga ronde. Kejurda Jatim merupakan even perdananya setelah bergabung di Cempaka Putih.

Ahmad Fauzi mahasiswa ITN Malang mengikuti Kejurda Jawa Timur, Perguruan Pencak Silat Cempaka Putih 2022. (Foto: Istimewa)

“Lawan terberat pesilat dari Magetan, karena pusatnya Cempaka Putih kan Magetan,” ujar Fauzi akrab disapa saat ditemui di Kampus 2 ITN Malang awal Desember 2022 lalu.
Fauzi menggeluti pencak silat Cempaka Putih sejak 2020. Kala itu, ia belajar silat di luar kegiatan sekolah. Olahraga ini pun ditekuni hingga kuliah. Fauzi mengaku lebih tertarik olahraga silat, karena silat merupakan asli budaya Indonesia. Sekaligus berharap bisa melestarikan silat.

Baca juga : Anggie Angesti Fitri Mahasiswa ITN Malang Masuk Nominasi Finisher Fun Run 5K

“Cempaka Putih jauh dari anarki, makanya saya nyaman bergabung. Selain seni beladiri, Cempaka Putih juga mengajarkan tenaga dalam, kekebalan, dan kerohanian. Tapi, untuk tenaga dalam dan kekebalan perlu berlatih serius dengan waktu yang lama,” tandas mahasiswa semester tiga ini. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Lulusan Terbaik Teknik Listrik Angkat Rancang Bangun Prototype Fuel Cell

Nanda Dwi Putra Anas Amirullah, lulusan terbaik Teknik Listrik DIII, Fakultas Teknologi Industri, ITN Malang pada wisuda ke 68 tahun 2022. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Malang, ITN.AC.ID – Energi listrik merupakan faktor penentu perekonomian, infrastruktur, transportasi, dan taraf hidup suatu negara. Sayangnya, saat ini ketergantungan terhadap energi listrik berbahan fosil cukup tinggi. Padahal bahan bakar fosil bukanlah sumber yang berkelanjutan. Untuk memenuhi kebutuhan energi populasi global yang semakin meningkat pesat, penting untuk meningkatkan ke sumber energi alternatif berkelanjutan yang tidak berdampak negatif terhadap lingkungan.
Salah satu yang bisa dikembangkan adalah fuel cell. Rancang bangun prototype fuel cell berusaha dikembangkan oleh Nanda Dwi Putra Anas Amirullah. Nanda merupakan lulusan terbaik Teknik Listrik DIII, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang pada wisuda ke 68 tahun 2022.
Fuel cell merupakan salah satu penghasil energi listrik alternatif, yang bekerja dengan mengkonversi energi kimia yaitu reaksi hidrogen dan oksigen menjadi energi listrik. Hidrogen merupakan unsur yang mudah didapat dan ramah lingkungan karena bisa didapatkan dari mana saja dan mudah terurai oleh alam.

Baca juga : PLTS ITN Malang jadi Wisata Edukasi

“Saya membuat prototipe untuk memahami cara kerja dari fuel cell, dan memahami faktor yang mempengaruhi kinerja fuel cell. Serta melihat daya yang dihasilkan terhadap banyaknya gas hidrogen yang dimasukkan kedalam alat. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa daya yang dihasilkan oleh alat akan meningkat seiring dengan banyaknya gas hidrogen,” kata Nanda.

Prototype fuel cell karya Nanda Dwi Putra Anas Amirullah, Teknik Listrik DIII, ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Nanda menjelaskan, prototipe ini terbuat dari bejana kaca tebal 5 mm, dengan panjang 30 cm, tinggi 28 cm, dan lebar 12 cm. Bejana dibagi tiga sekat dengan kisi-kisi panjang 5 cm, tinggi 7,5 cm, dan tebal 2 mm. Jarak antar kisi 2 cm. Antar kisi dihubungan dengan larutan elektrolit, sehingga memicu menghasilkan tegangan dan arus. Tegangan dan arus diukur dengan avometer dengan bebannya memakai resistor dummy load dengan nilai 220 ohm. Dummy Load adalah perangkat yang digunakan untuk mensimulasikan beban listrik untuk tujuan pengujian.
“Mengukur arus perlu beban. Maka saya menggunakan dummyload agar terbaca arusnya. Kesimpulannya, semakin banyak gas yang dimasukkan, tegangan yang dihasilkan semakin meningkat,” imbuh pemilik IPK 3,76 ini.

Baca juga : PLTS ITN Malang jadi Wisata Edukasi

Penelitian fuel cell menjadi tantangan bagi Nanda. Pasalnya penelitiannya mengarah ke elektronika. Jadi Nanda mau tidak mau harus belajar berbagai riset pendukung terutama jurnal luar negeri. Di Indonesia sendiri riset fuel cell masih tergolong jarang. Selain itu tantangan lainnya adalah saat membuat bejana kaca.
“Sulit membuat bejananya, sering bocor. Kurang lebih menghabiskan 2 juta rupiah,” tandasnya. Nanda dalam skripsinya dibimbing oleh Ir. M. Abd. Hamid, MT dan Ir. Taufik Hidayat, MT. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Kedaireka ITN Malang Ubah TPS Poncokusumo jadi Wisata Edukasi Berbasis Technopark

Malang, ITN.AC.ID – Melihat sampah hanya dibuang ke TPA, dan belum terkelola dengan baik, maka Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang tergerak untuk membantu mengolah sampah dengan teknologi tepat guna (TTG). Lewat Matching Fund Kedaireka, ITN Malang berkolaborasi dengan pemerintah Desa Poncokusumo dan PT Sangkar Garuda Sakti (SGS) mengembangkan sebuah wisata edukasi berbasis technopark yang berfokus pada pengolahan sampah anorganik menjadi energi terbarukan.

“Awalnya program Kedaireka yang kami ajukan untuk edukasi wisata dengan pemanfaatan TTG. Tapi, karena muncul permasalahan limbah sampah, akhirnya kami mengembangkan mesin pengolah sampah. Mitra pun (PT SGS) mendukung ke arah TTG pengolahan sampah,” tutur Dr. Aladin Eko Purkuncoro, ST MT, Ketua Tim Kedaireka ITN Malang saat ditemui beberapa waktu lalu.

PT Sangkar Garuda Sakti selama ini sudah mengembangkan mesin pengolah sampah organik di Desa Poncokusumo untuk dijadikan bahan pupuk, pelet pakan maggot, dan lain sebagainya. Namun, untuk sampah anorganik selama ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.

PT Sangkar Garuda Sakti yang berkedudukan di Karangnongko Poncokusumo merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan mesin TTG. Bidang lain yang dikelola adalah bidang pendidikan, industri manufaktur, dan industri pengolahan. Dengan pimpinan direktur utama Kusnadi dan direktur pelaksana Vendy Penatas Priadi. PT SGS bekerjasama dengan BUMDes Cipta Langgeng Sejahtera Poncokusumo membangun sebuah lokasi wisata berbasis edukasi yang menampilkan mesin-mesin TTG.

Menurut Aladin, Kedaireka ITN Malang akan membuat tiga TTG. Yakni, snelhecter mesin pencacah sampah, mesin pirolisis, dan mesin penyulingan. Metode pirolisis (mesin pirolisis) dapat mengolah sampah anorganik berupa plastik menjadi BBM yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Ini akan mengurangi sampah plastik di masyarakat.

“Kami bekerjasama dengan PT SGS untuk membuat mesin pirolisis ini. Awalnya sampah akan dipilah sesuai jenisnya, kemudian masing-masing dimasukkan dalam snelhecter. Lalu, sampah anorganik masuk ke pirolisis, dan ke mesin penyulingan untuk menghasilkan BBM,” bebernya.

Pembuatan mesin pirolisis dan mesin pengolahan sampah terpadu nantinya dapat digunakan sebagai wisata edukasi bagi pelajar SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, dan masyarakat umum. Mereka dapat belajar memanfaatkan sampah menjadi barang yang bernilai guna.

“Technopark-nya di sini. Jadi, pelajar dan masyarakat bisa belajar TTG pengolahan sampah terpadu. Pelajar SD bisa belajar tentang prototipe-nya, SMP sudah bisa diajak (belajar) ke lapangan, SMA bisa belajar prosesnya, sedangkan mahasiswa bisa belajar sampai ke produk jadi. Edukasi disesuaikan dengan tingkat pendidikan mereka. Karena kami adalah vokasi terapan, maka harus ada track record-nya,” jelas dosen Teknik Mesin DIII ITN Malang ini.

Bahkan, kedepannya selain mengembangkan TTG pengolahan sampah terpadu, Kedaireka ITN Malang juga akan mengembangkan TTG mesin pengolahan pertanian dari proses sampai produk jadi. Misalnya, pengolahan tomat menjadi saus tomat, dan lain-lain. Untuk mempermanis wisata technopark akan ditambah dengan fasilitas seperti spot foto dan sebagainya.

Kedaireka ITN Malang di Poncokusumo melibatkan enam prodi di lingkungan Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITN Malang, dengan anggota tim: Prof Lalu Mulyadi, MT (dosen Arsitektur), Ir. Lalu Mustiadi MT, (dosen Teknik Mesin S-1), Sanny Andjarsari, ST MT, (Teknik Industri DIII), Eko Budi Santoso, ST MM MT, (Teknik Mesin D-3), Ir Eko Nurcahyo, MT, (Teknik Listrik DIII), dan Ahmad Faisol, ST MT (Teknik Informatika). Dan, didukung oleh tim mahasiswa Prodi Arsitektur, S-1, Teknik Mesin DIII, Teknik Industri DIII, dan Teknik Listrik DIII ITN Malang.

“Di Malang sangat sedikit TPA. Solusinya sampah harus diolah. Maka, untuk alat pengolahannya perlu kontribusi perguruan tinggi. Harapan kami alat pengolahan sampah terpadu nantinya bisa bermanfaat, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Technopark bisa terwujud terutama untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Desa Poncokusumo. Juga, dapat memberi edukasi bagi pelajar, dan UMKM. Semoga Desa Poncokusumo bisa menjadi desa binaan ITN Malang,” tandasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

en_USEnglish